Pemuda Islam Itu Mahasiswa yang Murni Tauhidnya Menyeluruh Kepahaman Islamnya

Oleh: Yudhi Pramudya (Agroteknologi 2011)
    Kewajiban belajar agama bukan hanya bagi mahasiswa yang duduk di Jurusan Syari’ah atau yang belajar di Universitas Islamiyah. Mahasiswa pertanian, teknik dan kedokteran serta mahasiswa mana pun punya kewajiban yang sama. Ada kadar wajib dari ilmu agama yang mesti setiap mahasiswa pelajari. Karena tidak adanya ilmu agama itulah yang menyebabkan mahasiswa banyak yang salah jalan dan salah langkah. Akhirnya ada yang asal berkoar, namun bagai tong kosong nyaring bunyinya dan ujung-ujungnya tidak mendatangkan maslahat malah mengundang petaka.
     Tentu yang lebih diprioritaskan bagi setiap muslim untuk dipelajari adalah ilmu akidah dan tauhid. Karena kaum muslimin -bahkan banyak dari mereka- yang tidak mengetahui apa saja yang merusak akidah dan tauhidnya.
Perlu adanya pembinaan akidah dan prinsip beragama yang benar. Setelah akidah dan tauhid ini dibenarkan, yang tidak kalah penting adalah mempelajari ibadah yang harus dikerjakan setiap harinya seperti wudhu, shalat dan puasa. Begitu pula ditambah dengan cara bermuamalah dan berakhlak terhadap sesama tidak kalah penting untuk dikaji dan dipelajari.
        Mahasiswa adalah suatu populasi manusia penghimpun kebaikan yang didirkan dalam rangka iqamatuddien (menegakkan Islam) dengan menyesuaikan kebutuhan realitas dunia mahasiswa.
Maksudnya, dalam hal ini tidak kemudian menjadikan kita sebagai santri-santri yang akan pergi meninggalkan kampus. Namun, adalah bagaimana kita sebagai pemuda islam ini bisa berperan dalam da’wah sesuai dengan keahlian dan profesi masing-masing sebagai mahasiswa.
     Sungguh tiada tercela bahwa peran kita itu mulia kawan, kita berdiri dalam rangka mewujudkan insan akademis yang menjalankan syari’at Islam sehingga nantinya tercipta generasi Islam yang memahami, mencintai dan memperjuangkan Islam. Dengan catatan, dengan keahlian dan profesinya masing-masing.
     Banyak hal yang dapat dilakukan untuk menjadi pemuda islam generasi harapan termasuk diantaranya adalah, Menanamkan ajaran Islam kepada diri kita pribadi dengan tholabil ‘ilmi dan menularkannya kepada mahasiswa lain warisi ilmu islam secara murni dan kaffah. Selain itu, kita dapat membentuk pola pikir Islam dengan aktual dan faktual berdasarkan tingkat kepahaman masing-masing dengan melakukan banyak sharing agama. Menghimpun potensi ilmu dan keahlian yang kita milikki untuk menegakkan Islam. Membina dan menggerakkan teman-teman mahasiswa guna terwujudnya tujuan yang kita inginkan. Kemudian, sama-sama kita mewujudkan sarana-sarana aktualisasi diri bagi mahasiswa yang sejalan dengan aturan Islam.
      Kita harus pintar memandang bahwa komunitas mahasiswa yang telah hadir saat ini belum membawa visi yang utuh dalam menegakkan Islam. Jika pun ada, kekuatannya masih sangat terbatas. Mengapa demikian..?
Dalam sisi ini seharusnya kita mengamati bahwa pergerakan mahasiswa yang telah hadir hari ini:
1. Belum sepenuhnya tegak di atas manhaj salaf ash shalih. Sebagian komunitas mahasiswa yang hari ini aktif tegak di atas manhaj-manhaj baru yang tidak dikenal di masa-masa generasi salaf; baik para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in, dan kita wajib hadir dengan menawarkan manhaj salaf yang utuh dan murni, insya Allah dengan cara-cara yang diridhai Allah berdasarkan tujuan awal.
2. Keterlibatan berbagai komunitas mahasiswa ke dalam ranah politik praktis dengan terfokus pada da’wah struktural yang hari ini bergerak di atas ideologi demokrasi yang jauh, bahkan bertentangan dengan nilai-nilai Islam, membuat da’wah kultural semakin lama semakin ditinggalkan. Sayyid Quthb rahiimahuLlah berkata, “Harakah Islam harus dimulai dari pondasinya, yaitu: menghidupkan hakikat aqidah Islam di dalam hati dan akal, serta men-tarbiyah orang yang menerima da’wah ini dengan tarbiyah Islamiyah yang benar. Tidak membuang-buang waktu dalam berbagai aktivitas politik yang tengah berlangsung. Tidak melakukan upaya untuk memaksakan sistem Islam dengan cara menguasai pemerintahan sebelum terbentuk pondasi Islam di tengah-tengah masyarakat—dimana merekalah nanti yang akan menuntut sistem Islam itu sendiri, jika mereka telah mengerti hakikatnya dan ingin diperintah berdasarkan sistem tersebut.” (Kutipan dari kitab Limaadza A’damuni; Mengapa Aku Dihukum Mati).
3. Kelirunya sebagian gerakan dengan memaksakan mahasiswa untuk meninggalkan kampus dan menjadikan mereka santri yang menekuni kitab-kitab ilmu diin namun melupakan sisi yang lain, terutama keahlian dan profesionalitas dalam membangun peradaban Islam. Padahal, Islam mencakup seluruh aspek kehidupan yang tidak mungkin tidak, dalam proses penegakannya pun memerlukan tenaga-tenaga dari berbagai macam bidang kehidupan.
4. Sebagian gerakan justru terlalu tergesa-gesa dan pada akhirnya lebih memilih memindahkan mahasiswa dari medan-medan da’wah kampus menuju medan-medan qital (perang fisik) yang mereka ciptakan sendiri. Padahal realita yang ada di wilayah Nusantara hari ini secara umum adalah wilayah da’wah dan amar ma’ruf nahyi munkar.
5. Sedangkan sebagian lagi terfokus untuk menghantam sesama muslim. Sikap yang awalnya hadir dari niat baik berbalik dan menjadi sikap saling menyerang, disebabkan cara atau penyampaiannya yang tidak tepat lagi frontal. Bahkan, di antara mereka ada yang selalu berupaya untuk membongkar borok-borok sesama gerakan Islam yang pada akhirnya justru menjatuhkan mereka ke dalam fitnah saling membid’ahkan dan saling mengkafirkan yang tidak berujung, sedangkan hak muslim terhadap sesama muslim terabaikan.
    Maka dari itu, harus ada sebuah kumpulan kemahasiswaan yang menghimpun kebaikan-kebaikan dari setiap komunitas mahasiswa muslim yang ada dan membawa tradisi keilmuwan para ulama salaf dan juga semangat mereka dalam da’wah, ‘amar ma’ruf nahyi munkar, dan jihad fii sabiilillah. Alasan-alasan inilah yang menjadi sebab khusus bagi kita harus menjadi dan berkumpul, berhimpun dalam satu komunitas yang jelas dalam berideologi dan beragama, memahami tauhid dan menyeluruh kepahaman islamnya dibandingkan komunitas-komunitas kemahasiswaan Islam yang pernah ada sebelumnya.
      Sadari betul bahwa Pemuda Islam yang saya maksud diatas adalah ibarat bayi yang baru dilahirkan dari rahim ibunya, sehingga membutuhkan banyak uluran tangan dan gizi yang baik untuk membuat sang bayi ini tumbuh dan berkembang. Maka, jadilah tangan dan gizi-gizi itu wahai saudaraku. Mari kita bersama bersatu di atas manhajnya para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in. Kembali kepada pemahaman generasi pertama Islam (salaf ash shalih) dalam tarbiyah, da’wah, dan jihad.

 

Jika kita sudah mengetahui prinsip penting dalam beragama, maka setiap mahasiswa pun harus menyadari bahwa mereka tidak boleh asal-asalan dalam bertindak. Tidak cukup bermodalkan semangat, segala tindakan itu butuh ilmu. Kata Imam Bukhari, “Ilmu itu sebelum berkata dan bertindak.” Wallahu waliyyut taufiq. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna

 

Semoga apa yang kita torehkan ini menjadi saksi di hadapan Allah kelak yang akan membuka pintu ridha dan maghfirah-Nya. Aamiin…
Posted in Artikel.