Pendidikan dalam Sejarah Islam

Pendidikan pada masa Rasulullah SAW (610-632 M) ketika di Makkah, bertempat di rumah Rasul sendiri, rumah al-Arqam bin Abi Arqam, kuttab (rumah guru, halaman/pekarangan mesjid), Inti materi yang diajarkan; keimanan, ibadah dan akhlak, juga baca-tulis dan berghitung untuk tingkat dasar, al-Quran, dasar-dasar agama untuk tingkat lanjut. Guru disebut mu’allim atau mu’addib, serta tidak dibayar, dan bagi tingkat dasar gurunya non muslim. Pada saat Islam datang hanya 17 orang Qurasy yang bisa baca tulis. Di Madinah tempat belajar ditambah mesjid, materi yang diajarkan ditambah; pendidikan kesehatan dan kemasyarakatan. Sistemnya halaqah. Metodenya; tanya-jawab, demontrasi dan uswah hasanah, murid disebut dengan ashhabush shuffah (Nizar, 2007: 5-22, dan Asari, 1994: 27).

Pendidikan masa Abu Bakar as-Shidiq (632-634 M) tidak jauh berbeda dengan masa Rasulullah, dengan guru-guru dari para sahabat terdekat Rasulullah dan tidak digaji (Nizar, 2007: 45). Masa Umar bin Khattab (634-644 M) bertempat di mesjid dan kuttab. Materi yang diajarkan; baca tulis al-Quran, dasar-dasar agama Islam, tafsir, fikih, sastra, astronomi, dan kedokteran. Sudah ada pendidikan tinggi di mesjid. Guru disebut dengan syaikh, asistennya disebut naib, dengan urutan: syaikh, naib, muid, dan mufid. Ia diangkat oleh negara, dan digaji (Nizar, 2007: 47, dan Basri: 39). Dan pada masa Umar-lah permulaan dijadikannya hari jumat sebagai hari libur mingguan untuk persiapan shalat jum’at (Nahlawi, 1996: 207). Pada masa Usman bin Affan (644-656 M), pendidikan diserahkan kepada masyarakat, negara sibuk menyusun mushaf, guru tidak digaji. dan masih bertempat di mesjid dan kuttab. Pada masa Ali bin Abi Thalib (656-661 M), pendidikan kurang mendapatkan perhatian karena sering terjadi konflik (Nizar, 2007: 149).

Pada masa Umayyah (661-750 M), pendidikan bertambah dengan pendidikan istana dan pendidikan rakyat, pendidikan dasar dan tinggi Untuk pendidikan istana guru digaji dengan bayaran tinggi, untuk pendidikan rakyat gratis. Materi yang diajarkan adalah agama, sejarah, geografi, bahasa, filsafat, mantik, kimia, astronomi, hitung dan kedokteran (Nizar, 2007: 59).

Pada masa Abbasiah (750-847 M) tempatnya bertambah, di mesjid khan (mesjid dengan fasilitas asrama), dan madrasah untuk perguruan tinggi / universitas. Dan madrasah khusus Madrasah al-Thib / kedokteran, Dar al-Quran, Dar al-Hadis, Bait al-Hikmat (gedung pengetahuan tempat penerjemahan buku-buku dari Yunani), perpustakaan, observatorium (astronomi), dan rumah sakit. Materi yang diajarkan, lebih maju; ilmu agama dan umum, sastra, ilmu klasik dari Yunani dan Persia, filsafat dan ilmu alam. Guru disebut mudarris/ ustadz, guru al-Quran muqri; guru hadis muhaddits, penceramah, wa’id; guru nahwu, nahwi; penjaga perpustakaan, mutawakkil kuttab; dan direktur Dar alQuran disebut qoyyim. Untuk murid tidak dipungut biaya, guru digaji. Dan sarana sangat sempurna (Asari, 1994: 41-85).

Islam Spanyol (Umayah II) penaklukkan Spanyol pada tahun 711 M dan puncak kejayaan sekitar tahun 1050-1300 M (Nizar: 73-92), merupakan kebangkitan intelektualitas dalam segala bidang ilmu pengetahuan secara integral dan harmonis. Saat itu Eropa dalam keadaan memprihatinkan masih tertidur.

Hingga akhirnya dunia Islam mengalami kehancuran, seperti: pecahnya Perang Salib pada tahun 1147-1149 M (Philip K. Hitti: 212), Baghdad hancur oleh Monggol, raja Hulagu cucu Jengis Khan tahun 1258 M/666 H (K.Hitti 206, A. Salabi, 1997, 3: 345), dan Spanyol musnah oleh raja Ferdinand dari Aragon dan Isabella dari Castille pada tahun 1492 M (Nizar: 87). Ilmu pengetahuan diboyong ke Eropah.

Oleh: Dedeng Rosidin (UPI)

Posted in Berita.